Sunday, October 16, 2016

of volcanoes and its understandings


Salutations! The following is a writing of mine which was crafted to fulfill a berth ordained on the latest issue of the Independent! (http://issuu.com/independentterra) magazine. I mostly ponder and reflect upon my recent experience working on a volcano surveillance-related research and the state of the nation's non-exploration geophysical inquest through my own point-of-view on this one, so please bear in mind that this passage does not reflect any particular institution(s) and/or entity(s) standpoint.

Here's me hoping that this would be an interesting and enlightening read. Until then, as always, may your subconscious mechanisms carry you through a sweet journey within your slumbers perpetually.

 ----------------------------


----------------------------

Disiplin keilmuan geofisika sejatinya mengenal dua kelompok keahlian (expertise) utama, yakni Geofisika Eksplorasi dan Terapan (Exploration and Applied Geophysics) yang lebih berfokus ke segmen eksplorasi sumber daya serta Geofisika Global (Global Geophysics) yang lebih dititikberatkan pada kajian seputar fenomena-fenomena global dan kaidah keilmuan geofisika dari sudut pandang saintifik. Walaupun di atas kertas kedua kelompok keahlian ini sama-sama memiliki kelebihannya tersendiri dan saling bersinergi seiring waktu untuk memecahkan berbagai isu kegeofisikaan di dunia, tidak dapat dipungkiri bahwa animo para akademisi geofisika (terutama di Indonesia) saat ini masih sangat menjurus pada Geofisika Eksplorasi dan Terapan yang kerap dipandang memiliki prospek yang lebih unggul (terlebih bagi para mahasiswa yang memang berniat terjun pada entitas yang bergerak pada bidang sumber energi konvensional). Hal ini turut menimbulkan suatu kesenjangan di ranah Ibu Pertiwi kita, di mana Indonesia yang notabene berdiri di atas sistem tektonik yang sangat aktif masih sangat membutuhkan para ahli Geofisika Global yang handal untuk dapat berkiprah memahami berkah kebumian yang sangat membahana tersebut.


Jujur berbicara, penulis sendiri pun pada awalnya menjajak kaki di gedung Teknik Geofisika dengan mindset yang relatif tipikal bagi para mahasiswa baru kala itu – untuk dapat bekerja mencari minyak Bumi ke depannya. Namun, seiring waktu, dengan sendirinya penulis merasakan pesona keilmuan saintifik Teknik Geofisika yang ternyata mencakup ruang kajian yang sangat luas. Pun, ketika kesempatan untuk melangsungkan Kerja Praktek (KP) datang menjelang, penulis langsung berkonsultasi dengan Ulvi ’12 dan kemudian Bpk. Andri selaku Kaprodi TG ITB untuk berdiskusi mengenai kemungkinan pelangsugnan Kerja Praktek di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Puji syukur, keinginan penulis tersebut rupanya cukup dimudahkan dengan ketersediaan Ibu S. Hidayati (Ibu Ichi) dari pihak PVMBG untuk menjadi mentor penulis.


Dalam keberlangsungan Kerja Praktek ini, penulis mengangkat topik penelitian terkait penentuan hiposenter dari gempa-gempa vulkanotektonik (VT) yang teramati di kawasan Gunung Sinabung dalam rentang waktu 2010 – 2011. Tanpa berbekal pengalaman mengolah data seismometri hasil perekaman lapangan kontinu (continuous real-time seismometry) sebelumnya, pada awalnya penulis sempat terkejut melihat jenis-jenis waveform pada data yang memang sangat beragam. Memang, daerah vulkanik pada dasarnya sangat berasosiasi dengan beragam jenis-jenis gempa, dengan dominasi dari gempa-gempa vulkanik mikro (distal earthquake, tremor, dan gempa-gempa lainnya) dengan selingan sesekali dari gempa-gempa tektonik murni. Meskipun demikian, setelah membiasakan diri, pada akhirnya penulis menemukan ritme yang cukup nyaman bagi penulis dalam melakukan picking informasi-informasi yang diperlukan dari event-event yang teramati. Setelah proses picking selesai dilakukan, informasi-informasi yang diperoleh kemudian diproses lebih lanjut dengan menggunakan program GAD (Geiger Adaptive Damping) yang menggunakan prinsip single-event determination dengan metode Damping untuk menentukan titik hiposenter gempa. Lokasi-lokasi hiposenter yang di-output-kan oleh program GAD ini kemudian diolah kembali (untuk keperluan quality control dan hal-hal estetis lainnya) dengan menggunakan script MatLab yang diprogram oleh penulis sebelum akhirnya data akhir yang diperoleh di-plot secara visual dengan menggunakan program MatLab.


Secara keseluruhan, walaupun tidak sepenuhnya berjalan tanpa masalah, penelitian yang penulis lakukan telah menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi penulis pribadi. Hasil yang didapat di sini pun cukup menarik, di mana dengan menggunakan dua model kecepatan yang berbeda penulis mendapatkan bahwa hiposenter gempa-gempa VT di area Gunung Sinabung cenderung mengarah dari arah SW menuju NE, yang dapat ditafsirkan sebagai jalur pergerakan fluida vulkanik (magma) dengan lokasi magma chamber yang kemungkinan berada di ketinggian setara permukaan muka laut (mean sea level) walaupun untuk ke depannya hasil penafsiran ini baiknya ditelaah secara lebih mendalam mengingat proses relokasi hiposenter dan pengolahan lanjut lainnya belum dilangsungkan. Akhir kata, penelitian yang penulis lakukan telah sangat membuka mata penulis terhadap potensi keilmuan geofisika, dan percayalah – potensi semesta geofisika sesungguhnya masih sangat luas terbentang dan menunggu untuk dijelajahi.